Aku bingung melihat orang tuaku datang menjemputku ke sekolah dengan membawa nano. Tak biasanya seperti itu. Biasanya yang menjemput hanya satu orang. Mama, abi, atau omku.
Aku terpaksa mengucapkan sampai besok pada teman-temanku. Selesai melambai bak artis, aku menghampiri sepeda motor milik orang tuaku. Dan memperhatikan apa yang ada.
"Aku duduk dimana?" Tanyaku, melihat jok sepeda sudah penuh.
"Di depan." Jawab mamaku. Hah? Di depan..? Oh ow...
Aku yang sudah menginjak usia sepuluh tahun dan duduk di kelas 6 SD ini, bagaimana tak malu kalau harus duduk di jok depan sepedah motor. Kelihatan gak pantas kan.. Sudah setinggi dan sebesar ini..
Teman-temanku yang melihatku menaiki motor di depan tertawa.
"Ojo ngguyu!!" Teriakku. Bukanya berhenti, mereka tambah tertawa lagi.
Selama perjalanan, aku menyimpan malu ketika lewat di depan orang lain.
Aku nggak tahu kenapa, tapi abi memarkir sepedanya di sebuah rumah bercat putih. Atau tepatnya, tempat praktik dokter.
"Kenapa bi?" Tanyaku lagi.
"Nano sakit cacar." Jawab mama.
Cacar?
Oh, aku tahu. Kemarin memang nano main ke rumah temenya yang lagi sakit cacar. Jadinya, mungkin ketularan.
"Tutup." Ujar abi. "Katanya di gang 4."
"Yawes, ayo kesana!"
Aku naik lagi di jok depan. Motor melaju agak pelan. Setelah sampai di tempat tujuan, kami turun. Aku lega juga. habis sempit sih!
Nano di periksa sementaraaku duduk-duduk diatas kursi.
Tak lama, sudah selesai. Kami pulang ke rumah dan aku di peringatkan mama untuk rajin minum vitamin. Yah, aku agak malas juga.
Pertama, aku biasa-biasa aja sama nano. Tetep main bareng.
Hari-hari berlalu, belum ada tanda-tanda aku ketularan cacrnya nano.
Terus, kira-kira seminggu kemudian. Mama bilang, mudiknya ke kalimantan. Ke rumah saudaranya mbahkungku.
Aku yang belum pernah ke kalimantan, kontan seneng banget!! Pasti seru dhe di sana!!
Tapi, aku nggak ada pikiran, kalau aku ketularan cacar, batal deh ke Kalimantanya. Sampai akhirnya mama ngingetkan aku lagi.
"Jangan deket-deket nano lho mbak nil.. Nanti ketularan mboh lho ya.."
Aku mendadak kaget dan ngerasa pucat. iya juga.. kalau aku sakit cacar. bisa-bisa lebaran aku cuma di rumah tanpa kemana-mana. Minum obat. Dan tidur.
Hah?
Sejak itu, aku jaga jarak banget sama nano. Sebenernya aku kesepian. Soalnya temenku di rumah kan cuma nano. Jadinya ya... hmm...
Ya Allah, semoga aku nggak ketularan nano.. aku pingin main sama nano lagi.. tapi aku juga pingin ke kalimantan...
Tampilkan postingan dengan label about my family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about my family. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Agustus 2011
Jumat, 19 Agustus 2011
untitled
Aku tahu, seharusnya aku harus lebih mengerti. Hm.. Yah, saat itu egoku sedang memuncak. sungguh, aku tak bisa menahan amarahku. Kini, aku menyesal, sedih dan... merasa bersalah tentunya.
Apa yang kubicarakan? Ah, aku bicara tentang adikku. Ini baru kualami beberapa menit sebelum aku menulis posting ini... whatever. itu tak penting.
Sepulang sekolah, aku menyempatkan diri untuk membuat komik. Lalu aku mengerjakanya di kamar. Seperempat perjalanan, nano, adikku, masuk.
"Mbak nil, kok buku ini punya dua?" tanyanya sambil mengacungkan sebuah buku tulis warna kuning.
"Oh, itu emang aku belinya banyak.." Jawabku.
"Minta ya?" Pintanya.
"Yawes." Aku kembali menggambar.
Tak lama kemudian, nano masuk lagi dan membawa bukuku yang sudah kuberikan padanya.
"Lho, pensilku mana?" Tanyaku mencari pensil diatas kasur. Aku yakin tadi kutaruh disitu. Sementara nano, diam saja. Lalu aku melihat benda panjang warna hijau dan sedikit silver. Pensilku!
"Lhoooo.. pensilku lho nooo..." Aku berusaha mengambil pensil itu dari tanganya.
"Haaaahhh..."
"Pinjemo punyaku yang di tas! Yang warna pink!" Ujarku.
"Pink mana?"
"Duh.. Ini lho!" Aku menuju ke tasku dan mencari pensil yang kumaksud. Tapi aku malah mengambil dua pensil. Hitam dan pink.
"Nih." Nano tersenyum lalu mengambil salah satu pensilnya. kalau taks alah, dia memilih pensil hitam.
Lagi-lagi. Rupanya isi pensilnya habis.
"Yah.. habis mbak nil!"
"Oh, aku punya isi." Aku kembali ke tasku dan mencari isi pensil yang wadahnya bewarna coklat. Sebenarnya, itu isi pensil temuanku. Aku temukan di musala rumahku kemarin malam.
Aku mengambilkan satu batang isi pensil kepada Nano. Lalu kembali menggambar.
"Mbak nil, ajari nggambar.." Nano mengguncang bahuku satu kali.
"Ntar.." Sahutku konsentrasi dengan lembar komikku dan pensil.
"mbak nill... ajariin.." Kini goncanganya makin keras.
"Nanti nanti..."
"Mbak nil!!"
"Sek thalaa..."
Breekk!!
Seketika, nano merobek salah satu halaman komikku. Aku terdiam sejenak lalu menoleh kepada Nano.
"Lho noo!! Aku wes bikin susah-susah lhoo!!" Marahku. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya kedepan dan kebelakang dengan keras. Lalu aku memukulnya. Saat aku memukul Nano rasanya... hh, susah di jelaskan. pokoknya, habis mukul, aku langsung merasa bersalah.
Tapi.. Aku malah mendorong tubuh nano. Untung dia tak jatuh. Tapi... Aku langsung menaruh kepalaku diatas kasur dan memeluknya dengan tangan.
"Aku kan udah bikin susah-susah!!" Teriakku. Nano menangis dan berlari keluar. Menghampiri mama.
Aku masih diam di tempatku.
"Kenapa sih...??" Tanya mamaku begitu melihat Nano menangis.
"NANO ITU LHO MA!! NYOBEK KOMIKKKU! PADAHAL AKU UDAH BIKIN SUSAH-SUSAH!!" Bentakku keras. Jujur, aku tak mau membentak-bentak seperti itu. Apa boleh buat, aku terbawa emosi.
Aku berlari kembali ke kamar dan mengunci diri. Aku membawa laptop ke dalam kamar dan membuat posting ini.
Yah... Seharusnya aku memang harus mengerti. Aku tahu, seharusnya tadi aku mengajari nano dulu. Kalau kulakukan, pasti takkan seperti ini.
Maafkan kakakmu ini ya, no.
Apa yang kubicarakan? Ah, aku bicara tentang adikku. Ini baru kualami beberapa menit sebelum aku menulis posting ini... whatever. itu tak penting.
Sepulang sekolah, aku menyempatkan diri untuk membuat komik. Lalu aku mengerjakanya di kamar. Seperempat perjalanan, nano, adikku, masuk.
"Mbak nil, kok buku ini punya dua?" tanyanya sambil mengacungkan sebuah buku tulis warna kuning.
"Oh, itu emang aku belinya banyak.." Jawabku.
"Minta ya?" Pintanya.
"Yawes." Aku kembali menggambar.
Tak lama kemudian, nano masuk lagi dan membawa bukuku yang sudah kuberikan padanya.
"Lho, pensilku mana?" Tanyaku mencari pensil diatas kasur. Aku yakin tadi kutaruh disitu. Sementara nano, diam saja. Lalu aku melihat benda panjang warna hijau dan sedikit silver. Pensilku!
"Lhoooo.. pensilku lho nooo..." Aku berusaha mengambil pensil itu dari tanganya.
"Haaaahhh..."
"Pinjemo punyaku yang di tas! Yang warna pink!" Ujarku.
"Pink mana?"
"Duh.. Ini lho!" Aku menuju ke tasku dan mencari pensil yang kumaksud. Tapi aku malah mengambil dua pensil. Hitam dan pink.
"Nih." Nano tersenyum lalu mengambil salah satu pensilnya. kalau taks alah, dia memilih pensil hitam.
Lagi-lagi. Rupanya isi pensilnya habis.
"Yah.. habis mbak nil!"
"Oh, aku punya isi." Aku kembali ke tasku dan mencari isi pensil yang wadahnya bewarna coklat. Sebenarnya, itu isi pensil temuanku. Aku temukan di musala rumahku kemarin malam.
Aku mengambilkan satu batang isi pensil kepada Nano. Lalu kembali menggambar.
"Mbak nil, ajari nggambar.." Nano mengguncang bahuku satu kali.
"Ntar.." Sahutku konsentrasi dengan lembar komikku dan pensil.
"mbak nill... ajariin.." Kini goncanganya makin keras.
"Nanti nanti..."
"Mbak nil!!"
"Sek thalaa..."
Breekk!!
Seketika, nano merobek salah satu halaman komikku. Aku terdiam sejenak lalu menoleh kepada Nano.
"Lho noo!! Aku wes bikin susah-susah lhoo!!" Marahku. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya kedepan dan kebelakang dengan keras. Lalu aku memukulnya. Saat aku memukul Nano rasanya... hh, susah di jelaskan. pokoknya, habis mukul, aku langsung merasa bersalah.
Tapi.. Aku malah mendorong tubuh nano. Untung dia tak jatuh. Tapi... Aku langsung menaruh kepalaku diatas kasur dan memeluknya dengan tangan.
"Aku kan udah bikin susah-susah!!" Teriakku. Nano menangis dan berlari keluar. Menghampiri mama.
Aku masih diam di tempatku.
"Kenapa sih...??" Tanya mamaku begitu melihat Nano menangis.
"NANO ITU LHO MA!! NYOBEK KOMIKKKU! PADAHAL AKU UDAH BIKIN SUSAH-SUSAH!!" Bentakku keras. Jujur, aku tak mau membentak-bentak seperti itu. Apa boleh buat, aku terbawa emosi.
Aku berlari kembali ke kamar dan mengunci diri. Aku membawa laptop ke dalam kamar dan membuat posting ini.
Yah... Seharusnya aku memang harus mengerti. Aku tahu, seharusnya tadi aku mengajari nano dulu. Kalau kulakukan, pasti takkan seperti ini.
Maafkan kakakmu ini ya, no.
Langganan:
Postingan (Atom)